Stephanus Koeswandi

Jika menyebut PT Tata Logam Lestari, orang akan langsung mengasosiasikannya dengan genteng metal. Tidak salah memang, perusahan ini merupakan penguasa pasar genteng metal, dengan pangsa sekitar 80%. Akan tetapi, Tata Logam bukan cuma produsen genteng metal, melainkan juga produsen rangka atap baja ringan dan rumah pre fabrikasi – yang juga terbuat dari bahan metal.

Tata Logam merupakan perusahaan keluarga yang didirikan pasangan Yarryanto Rismono dan Wulani Wihardjono. Kala itu karyawannya baru empat orang. Pabrik merangkap kantornya berupa rumah tinggal yang berlokasi di Jalan Palem Raya, Jakarta Barat. Yarrianto memproduksi genteng metal karena melihat rumah-rumah di sepanjang jalan itu masih menggunakan atap seng yang berkarat. “Dari situlah ayah saya ingin ‘mengatapi’ dan menggantikan seluruh logam seng yang berkarat tadi dengan produk terbaik kami,” kata Stephanus Koeswandi, Vice President Tata Logam.

Menurut Stephanus, tahun 1994 itu perusahaannya masih sangat kecil. Modal awalnya mungkin hanya sekitar Rp 100 juta. Seiring dengan berjalannya waktu, bisnis Tata Logam terus berkembang. Kini, ia sudah menjelma sebagai pemain besar di industri baja ringan. Dengan empat pabrik besar, tiga di Cikarang dan satu di Cibitung, Tata Logam yang diperkuat 900 karyawan mampu menghasilkan produk baja ringan sebanyak 15.000 ton/bulan. “Kapitalisasi bisnis ini pun cukup besar, yakni berkisar Rp 4-5 triliun,” ungkapnya.

Bisnis Tata Logam bergulir kencang setelah pemerintah menggencarkan pemberantasan illegal loging. Harga kayu semakin mahal. Di sisi lain, dengan menggunakan baja ringan, rangka bangunan terhindar dari serangan rayap. Lebih awet dan tahan karat.

Tata Logam meluncurkan produk genteng metal dengan merek Multi Roof, Sakura Roof, Multi Sirap dan Fancy. Untuk atap gelombang, perusahaan ini menghadirkan merek Soka Jempol dan Sakura MX. Sementara, rangka atap baja ringannya diberi merek Sakura Truss dan Taso. “Untuk Sakura Truss ini kami gunakan Tantowi Yahya sebagai brand ambassador-nya,” ujar Stephanus.

Tata Logam memasarkan produknya lewat 42 distributor yang tersebar di seluruh Indonesia, dan ditopang 4.000-an toko bahan bangunan. Di luar itu, Tata memasarkannya secara langsung lewat gerai bernama Roofmart Express. Jumlahnya saat ini mencapai 22 buah. Pendirian Roofmart tak lepas dari keinginan mewujudkan konsep gerai modern. “Kalau toko bangunan kan mungkin agak susah displai barangnya. Jadi, kami menciptakan konsep supermarket khusus untuk atap, yang menyediakan genteng metal, baja ringan, ataupun rangka platform, semua ada di situ,” tutur Stephanus.

Stephanus adalah sulung dari dua bersaudara anak pasangan Yarrianto-Wulani. Peraih Master of Engineering/Computer Engineering di RMIT University, Melbourne, Australia, 2005 ini mulai bergabung dengan perusahaan keluarganya pada Agustus 2006. Sebelumnya, ia sempat berkarier di Melbourne, bekerja sebagai Auditor Saham Junior di Coles Group Ltd.

Meski anak pemilik, Stephanus tidak langsung duduk di kursi empuk Tata Logam, tetapi harus merangkak dari bawah, yakni sebagai programmer – sesuai dengan pendidikannya di bidang komputer. Dari situ kemudian beranjak menjadi manajer sistem informasi. Dan, seiring dengan berjalannya waktu, ia terus mempelajari bidang lainnya, hingga akhirnya dipercaya sebagai VP Tata Logam.

Stephanus kini bertugas di bidang operasional, misalnya menangani pembelian bahan baku. Namun, kadang juga mengemban tugas sebagai tenaga penjualan. “Jadi, tugasnya campur-campur he-he-he,” ujarnya.

Pria kelahiran 31 tahun silam ini tidak secara spesifik menyebutkan proses penggemblengan dari ayahnya. “Papa saya bilang bahwa saya harus selalu tekun mendalami bisnis, harus melakukan apa pun dengan kesungguhan hati,” ujarnya. Maka, tak aneh jika Stephanus selalu teknun mengerjakan tugasnya. Ia juga rajin belajar, baik dari orang-orang yang ada di Tata Logam maupun di luar perusahaan.

Lalu, akan dibawa ke mana Tata Logam? Pria berkacamata ini bertekad terus menambah jaringan distribusi, agar pasarnya makin luas. “Kami juga akan memperbesar kapasitas untuk produk Sakura MX, karena potensinya masih sangat besar,” tuturnya.

Stephanus menyebutkan, rencana yang akan ditempuh dalam waktu dekat adalah menambah gerai Roofmart Express. Untuk mempercepat penambahan gerai, perusahaannya juga akan menjalin kerja sama dengan pihak lain dalam bentuk franchise. Di sisi lain, produksi rumah instan (pre fab ware house) juga akan digenjot. “Kami sedang kerjakan proyek pre fab ware house ini di Timor Leste senilai Rp 1,5 miliar untuk pembuatan gudang kopi. Kami memang akan garap lebih serius lagi untuk produk ini,” Stephanus menandaskan.(*)

By: Didin Abidin Masud & Gustyanita Pratiwi. Riset: Sarah Ratna

original article from swa.co.id

Related Post